Mengapa Harus Cepat–cepat Lulus ?

Lebih Cepat Lebih Baik?

Mahasiswa cenderung menginginkan kelancaran selama proses studi. Mengapa? Alasan yang pertama dan yang sering saya dengar adalah ingin cepat mendapatkan pekerjaan. Benarkah pekerjaan akan lebih cepat diperoleh dengan masa studi yang lebih cepat? Secara teori hal itu mungkin saja terjadi. Semakin cepat mahasiswa memperoleh gelar, maka semakin cepat pula dia melamar pekerjaan. Tapi ada faktor lain yang juga memainkan peran, yaitu keterampilan secara teknis / operasional.

Saya jarang menemukan seorang mahasiswa ketika lulus dari perguruan tinggi langsung memperoleh posisi sebagai manajer (kecuali jika bekerja pada perusahaan keluarga). Pada umumnya pemegang gelar sarjana atau ahli madya yang baru saja lulus, ditempatkan pada posisi entry level. Sebagai contoh di dunia perbankan ada posisi seperti customer service, account officer, credit marketing officer, dsb. Apakah para fresh garduate sudah memiliki keterampilan yang cukup untuk bekerja secara langsung? Saya cenderung merasa mereka belum dibekali dengan kemampuan teknis / operasional.

Mengapa saya mengatakan bahwa mereka belum memiliki kemampuan operasional yang cukup untuk terjun ke dalam dunia kerja? Ada fakta bahwa selama kuliah para mahasiswa cenderung diberikan bekal yang bersifat know what daripada yang bersifat know how. Komposisi yang tidak seimbang antara dua jenis pengetahuan tersebut mengakibatkan para lulusan belum siap untuk masuk ke dunia kerja. Kakak kelas saya yang diterima bekerja pada suatu perusahaan mengatakan bahwa mereka baru mengetahui bagaimana membuat house of quality secara nyata. Demikian pula saya yang baru mempraktikan hal tersebut ketika membantu teman saya membuat tugas mengenai quality function deployment. Hal ini tidak saya peroleh ketika masih kuliah S1 dulu. Bukti yang lain adalah adanya lulusan yang tidak mampu melakukan praktik dasar dari konsentrasi yang dia pilih ketika kuliah dulu yaitu praktik menjual (konsentrasi pemasaran). Semua ini membuktikan bahwa pada umumnya perguruan tinggi hanya mencetak lulusan yang paham teori tetapi tidak paham bagaimana mempraktikkannya.

Pengelola perguruan tinggi bukannya tidak paham akan fenomena – fenomena yang sudah lama terjadi itu. Tetapi lambatnya perubahan kurikulum membuat saya berpikir bahwa perubahan harus dimulai dari sisi mahasiswa terlebih dahulu. Saya tidak bisa lagi berharap perguruan tinggi mengubah pola ajarnya, menitikberatkan pada aspek praktik, dan mengurangi pengajaran teoritis yang berlebihan (kecuali jika ada program studi dalam perguruan tinggi memang dikhususkan pada pendalaman teori). Calon lulusan harus mengambil inisiatif sendiri. Saya hendak menyarankan agar calon lulusan tidak perlu terburu – buru untuk menyelesaikan skripsi atau tugas akhir.

Best Practices

Saya ingin berbagi best practices yang saya jalankan selama saya kuliah di jenjang S1 dan S2 ini. Ketika para calon lulusan sedang mengerjakan skripsi atau tugas akhir atau bahkan tesis, sebisa mungkin mahasiswa juga melihat peluang – peluang magang yang ditawarkan oleh beberapa perusahaan. Selain melihat peluang magang, para calon lulusan juga sebaiknya mengikuti seminar, kursus, dan pelatihan. Jika mengikuti seminar, pelatihan, dan kursus yang diadakan oleh pihak kampus, saya berasumsi bahwa investasi yang dikeluarkan mahasiswa tidak terlalu mahal. Tetapi lain halnya jika seminar, pelatihan dan kursus diadakan tanpa adanya kerja sama dengan pihak kampus, maka investasinya mungkin kurang terjangkau oleh mahasiswa.

Meskipun investasi yang dikeluarkan tidak sedikit, saya meyakini bahwa dengan mengikuti seminar, pelatihan dan kursus (yang condong ke aspek praktis) maka keterampilan teknis calon lulusan akan semakin baik. Untuk apa menyelesaikan skripsi atau tesis dengan cepat tetapi minim keterampilan teknis? Mengapa saya menganjurkan untuk mengikuti seminar, pelatihan, dan kursus ketika calon lulusan sedang mengerjakan skripsi atau tesis? Karena pada saat itulah kegiatan akademik calon lulusan sudah tidak sepadat ketika masih mengambil kuliah teori. Meskipun demikian, sebaiknya pengerjaan skrpsi atau tesis juga tidak terlalu lama. Selamat mencoba.

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2011/04/09/mengapa-harus-cepat%E2%80%93cepat-lulus/

Comments are closed.